Showing posts with label Hijauan dan Konsentrat. Show all posts
Showing posts with label Hijauan dan Konsentrat. Show all posts

Monday, 30 July 2018

Mengenal Rendeng Kedelai Dan Jerami Kacang Tanah Serta Kandungan Nutrisinya

Jerami Kacang Kedelai dan Kacang Tanah Untuk Pakan Ternak, Hijaua Alternatif Sumber Protein, Kandungan PK Mencapai 16%

Pada musim-musim tertentu dikala hijauan alami pakan ternak yang berupa rumput sulit diperoleh maka diharapkan sumber pakan lain sebagai alternatif pakan ternak pengganti hijauan. Beberapa macam limbah tumbuhan pertanian dapat menjadi pilihan hijauan pengganti pada dikala isu terkini panen tumbuhan tersebut. Salah satu jenis tumbuhan pertanian yang dapat dimanfaatkan limbahnya untuk pakan ternak ialah jenis tumbuhan kacang-kacangan ibarat kedelai dan kacang tanah.

Rendeng kedele atau daun kacang kedelai kering salah satu hasil limbah pertanian. Sebagian besar jenis ternak menyenangi rendeng kedelai ini (palatabilitas tinggi). Kurang lebih protein agresif yang terkandung didalamnya mencapai 16%.
Jerami adalah hasil samping perjuangan pertanian berupa tangkai dan batang tumbuhan serealia yang telah kering, sesudah biji-bijiannya dipisahkan. Massa jerami kurang lebih setara dengan massa biji-bijian yang dipanen.
Ada beberapa jenis jerami kacang-kacangan yaitu; jerami kedelai, jerami kacang tanah, dan jerami kacang hijau, jerami ini mengandung serat agresif lebih rendah dibanding jerami padi, dan mengandung protein lebih tinggi.

Di samping itu jerami kacang-kacangan rasanya lebih enak, sehingga disukai ternak dan secara alami pengaruhnya lebih baik terhadap pertumbuhan ternak dibanding jerami padi.

Kandungan gizi jerami kacang tanah antara lain; protein 14,7 %, kalsium 1,5 %, dan phospor 8,20 %.

Kandungan gizi jerami kedelai; protein 16,6 %, kalsium 1,2 %, dan phospor 0,20 %.

Pada dikala isu terkini panen kacang tanah maupun kacang kedelai maka sangat disayangkan jikalau jeraminya terbuang percuma alasannya kandungan protein kasarnya yang tinggi.

Thursday, 5 July 2018

Sumber Hijauan Pakan Ternak Asal Gulma, Alang-Alang, Ini Kandungan Nutrisinya!

Daun Alang-alang Untuk Hijauan Pakan Ternak Alternatif
Alang-alang yaitu gulma yang sangat mengganggu petani, baik dilahan sawah, ladang dan dipinggir jalan flora alang-alang ini sangat gampang tumbuh. Potensi inilah yang menjadikan alang-alang cocok sebagai alternatif hijauan pakan ternak.
Penggunaan akar alang-alang (Imperata cylindrica)  dalam pakan atau ransum unggas sanggup mengurangi gulma flora para petani, sebab yang kita tahu bahwa alang-alang (Imperata cylindrica)  hanyalah rumput atau flora pengganggu, baik yang tumbuh di tepian sawah, jalan, lapangan maupun dihalaman rumah. Sehingga penggunaan akar alang-alang (Imperata cylindrica)  untuk pakan ternak sanggup mengurangi keresahan para petani atau masyarakat disekitaran tumbuhnya alang-alang ini.

Alang-alang


Daun alang-alang yang masih muda sanggup dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia, sebagai pemanis pakan hijauan, walaupun pemberiannya tidak banyak namun pemanfaatannya cukup baik dan sanggup diterima oleh masyarakat. Selain itu, flora alang-alang sanggup dipakai sebagai obat tradisional ataupun herbal, dan juga sanggup juga dikonsumsi oleh manusia, tentunya dengan produk alang-alang (Imperata cylindrica) yang telah diolah baik olahan rumah maupun industri.
Alang-alang untuk pakan ternak sifatnya hanyalah sebagai alternatif untuk adonan hijauan yang lain hal ini sebab alang-alang gampang ditemukan dimana-mana dan tumbuh sebagai gulma yang mengganggu flora lainnya. Kandungan Protein Kasar (PK) pada alang-alang sekitar 7,3  % dengan TDN sekitar 32 %.

Penggunaan akar alang-alang (Imperata cylindrica)  dalam pakan atau ransum unggas sanggup mengurangi gulma flora para petani, sebab yang kita tahu bahwa alang-alang (Imperata cylindrica)  hanyalah rumput atau flora pengganggu, baik yang tumbuh di tepian sawah, jalan, lapangan maupun dihalaman rumah. Sehingga penggunaan akar alang-alang (Imperata cylindrica)  untuk pakan ternak sanggup mengurangi keresahan para petani atau masyarakat disekitaran tumbuhnya alang-alang ini.

Kandungan nutrisi Akar Alang-alang
Akar alang-alang (Imperata cylindrica) mempunyai kandungan nutrisi menyerupai protein 1,54 %, energi 3728 Kkal/kg, SK 0,24 %, lemak 0,29 %, Ca 0,16 % dan P 0,28%. Metabolit yang telah ditemukan pada akar alang-alang terdiri dari arundin, ferfenol, flavonoid, kampesterol, stigmasterol, ß-sitosterol, katekol, asam oksalat, asam sitrat, potassium (0,75% dari BK), sejumlah besar kalsium sejumlah besar kalsium dan 5-hidroksitriptamin.

Dari hasil penelitian lain terhadap akar dan daun ditemukan 5 macam turunan flavonoid yaitu turunan 3′,4′,7-trihidroksi flavon, 2′,3′-dihidroksi kalkon dan 6-hidroksi flavanol. Suatu turunan flavonoid yang kemungkinan termasuk golongan flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon atau isoflavon terdapat pada fraksi ekstrak yang larut dalam etilasetat akar alang-alang (Imperata cylindrica). Pada fraksi ekstrak yang larut dalam air akar alang-alang (Imperata cylindrica)  ditemukan golongan senyawa flavon tanpa gugus OH bebas, flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon, atau isoflavon (Anonim,2003).

Akar alang-alang (Imperata cylindrica)  juga mengandung Air (81,00714%), Karbohidrat (6,3072%), Serat (5,8580%), Abu (1,1301%), monitol, senyawa K, sakarosa, glukosa, malic acid,  citric  acid,  arundoin,  cyllindrin,  fernenol,  simiarenol,  dan anemonin.

Tabel 1. Komposisi gizi akar alang-alang (Imperata cylindrica)
GiziEkstrak  (% BK)Tepung   (% BK)
Protein kasar1,542,61
Lemak0,290,37
Abu3,983,91
Serat Kasar0,240,52
Sumber: Livestoc. 2012

Dari data tersebut, kandungan gizi tepung akar alang-alang (Imperata cylindrica)  lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan gizi ekstrak akar alang-alang (Imperata cylindrica). Namun kadar debu ekstrak akar alang-alang yang terkandung lebih tinggi sedikit dari kadar debu tepung akar alang-alang (Imperata cylindrica) (Livestoc. 2012).

Hijauan Azolla Microphylla, Pakan Ternak Dan Ikan Yang Menjanjikan

Budidaya Azolla Microphylla Sebagai Hijauan Pakan Ternak Alternatif.

Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan dalam arti memenuhi standar Hijauan Makanan Ternak (HMT). Pemberian perhiasan pakan azolla ini bisa dalam bentuk segar dan bisa dicampurkan untuk comboran sapi atau eksklusif diberikan begitu saja sebagai hijauan segar.

Azolla Microphylla
Azolla bisa dibentuk pelet untuk disimpan dan digunakan ketika diperlukan contohnya ketika animo kemarau dimana stock atau kondisi rumput menguning dan susah dicari. Pembuatan pelet azolla sebaiknya ketika animo penghujan alasannya ialah azolla tumbuh sangat baik ketika animo penghujan sehingga stock berlimpah.

Kandungan nutrisi pada tumbuhan Azolla microphylla:
  • protein  31,25%
  • lemak 7,5%
  • karbohidrat 6,5%
  • gula terlarut 3,5% 
  • serat bernafsu 13%.
Azolla merupakan genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini, salah satu spesiensya ialah Azolla mirophylla. Azolla dikenal bisa bersimbiosis dengan alga biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen eksklusif dari udara. 

Potensi ini menciptakan Azolla baik digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau untuk tanaman. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari. Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein yang tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.

Meski sudah terkenal semenjak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani membudidayakan dan memanfaatkan tumbuhan azolla (Azolla microphylla) untuk perjuangan taninya. Padahal manfaat tumbuhan air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tumbuhan hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan

Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tumbuhan padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea hingga 65 Kg/ha. 

Budidaya Azolla microphylla 

Media sanggup memakai kolam plastik, kolam, terpal, dan daerah lain yang tidak ada ikan  berukuran besar, jikalau ada ikan kecil (guppy,cere) tidak begitu bermasalah, justru bermanfaat supaya tidak menjadi perkembang biakan jentik nyamuk. Lakukan penyemprotan stok setiap tiga bulan sekali memakai pupuk ( 1 sendok makan SP-36 per 1 liter air). Sebaiknya Sp-36 ditumbuk halus supaya gampang larut dalam air. indukan ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lahan yang lebih besar. Bisa juga dilakukan dengan kurasan air kolam ikan yang tercampur kotoran ikan.

Taburkan pupuk kandang(kotoran kambing, kotoran ayam, atau yang lainnya) kedalam kolam, baik memakai kolam terpal ataupun kolam tanah, langkah selanjutnya , isi kolam dengan air minimal 5 cm (dari permukaan media pupuk) maksimal 20 cm, jangan terlalu tinggi air dalam kolam akan lebih baik jikalau akar azolla sanggup menjangkau media. dan yang tak kalah penting ialah sinar mataharisemakin usang mendapat sinar matahari semakin baik
  (untuk mendapat bibit azolla silahkan browsing via mbah google ya, ada yang jual online, jangan kuatir).

Manfaat Lain dari Azolla


Pengganti Pupuk Kimia

Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5%, Phosphor (P) 0,5 - 0,9% dan Kalium (K) 2 - 4,5K. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1%, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6%, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26% dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16%. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap animo tanam, maka suatu ketika tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.

Untuk menciptakan kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, gres dikemas dalam kantong plastik atau eksklusif digunakan sebagai media tanam.

Pakan Unggas dan ikan

Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan bermacam-macam jenis ikan omnivora dan herbivora. Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, gabungan azolla 15 persen ke dalam ransum ini bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak alasannya ialah bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.

Berdasarkan kajian di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan proteksi pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di ketika harga pupuk, pakan ternak dan pakan ikan mahal mirip ketika ini, tak ada salah bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan perjuangan yang secara finansial cukup menguntungkan. Kata yang paling sempurna ialah perjuangan budidaya Azolla baik untuk dibisniskan.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae sanggup memfiksasi N2-udara sebanyak 70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari 0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai sehabis 14 –28 hari sehabis inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka sehabis 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan daerah Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, sanggup dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene ialah pupuk kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah sanggup menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila animo sangat baik Azolla sanggup menghemat hingga dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada animo penghujan daripada animo kemarau.

Berita wacana Azolla yang diambil dari http://nationalgeographic.co.id:
Pebudidaya Azolla lainnya, Abdul Ghofoer asal Pati, Jawa Tengah juga mulai membudidayakan tumbuhan paku semenjak 2012, sebagai alternatif pakan bagi lele yang ia budidayakan. Ia hanya membeli satu kantung pupuk dan membudidayakan sendiri di kolam.

Saat ini, ia bisa menghasilkan 10 kg Azolla per hari. Harga untuk satu kantung Azolla seberat 400 gram ia jual Rp 25.000. Abdul sanggup mengantongi omzet sekitar Rp 3 juta.
Sebagai habitat orisinil tumbuhan rawa atau sawah, budidaya Azolla Microphylla tidak sulit. Kunci utama membuatkan tumbuhan ini ialah menciptakan media tanam mirip habitat aslinya.
Abdul Ghofoer bilang, tumbuhan ini bisa dikembangkan di kolam terpal yang diberi lumpur ataupun kolam tanah.

Untuk menghasilkan Azolla yang maksimal, baiknya tanah yang akan dimasukkan dalam kolam dicampur dengan pupuk sangkar kering. Komposisi campurannya, 70% tanah dan 30% pupuk kandang.
Selanjutnya, gabungan tanah dan pupuk sangkar dimasukkan ke dalam  kolam secara merata dengan ketebalan sekitar 5 centimeter (cm). Setelah itu isi kolam dengan air secukupnya. Setelah kolam siap gres dilakukan penebaran bibit.

Untuk kolam berukuran 2 x 3 meter, bisa diisi bibit sebanyak 1 kilogram. Biasanya bibit ini bersifat basah, sehingga harus segera ditebar.  Supaya Azolla bisa tumbuh maksimal, perhatikan ketinggian air di dalam kolam. Ketinggian air di dalam kolam cukup antara 10 cm - 15 cm dari lumpur.
Semakin akrab jarak air dengan lumpur akan semakin baik alasannya ialah akan mempercepat perkembangan tanaman. Yang harus diperhatikan juga ialah posisi kolam. Sebaiknya jangan tempatkan kolam di bawah sinar matahari eksklusif alasannya ialah akan merusak warna daun. "Nanti warnanya bisa kecoklatan, sebaiknya diberi paranet saja," katanya.

Namun demikian, kolam juga tidak bisa dibentuk di ruang tertutup alasannya ialah azolla membutuhkan nitrogen dan berfotosintesis. Abdul Ghofoer menjelaskan, tumbuhan ini sanggup dipanen bila sudah memenuhi seluruh kolam dengan membentuk tiga lapis tanaman.

Setiap hari tumbuhan ini sanggup tumbuh 30% dari jumlah bibit yang disebar. Sehingga dalam waktu lima hingga tujuh hari Azolla sudah sanggup dipanen.

Untuk memanen tumbuhan ini baiknya dalam satu kolam diambil secukupnya. Biasanya Abdul mengambil sekitar 50% saja.

Tujuannya, supaya petani tidak perlu membeli bibit gres dan tumbuhan sanggup terus berkembang. Untuk pemeliharaan, sanggup menambahkan pupuk sangkar kering bila pertumbuhan Azolla sudah kurang maksimal dan lambat. "Sampai ketika ini, saya tidak pernah mengganti air, hanya menambahkan pupuk saja," terang Abdul.

Wednesday, 4 July 2018

Cara Dan Manfaat Analisa Proksimat, Kenali Gizi Pakan Ternak Yang Anda Pakai

Apa Yang Dimaksud Analisis Proksimat?
Selama ini kita sering mendengar atau membaca kandungan nutrisi suatu materi pakan ternak yang ditampilkan dalam bentuk prosentase Bahan Kering (BK), Protein Kasar (PK), Lemak Kasar (LK) dan Serat Kasar (SK). Sebenarnya apa yang dimaksud dengan protein kasar, lemak garang dan lain-lainnya itu dan bagaimana cara memperoleh kandungan atau prosentasenya?
Zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam materi pakan atau jaringan binatang ditentukan dengan memperabukan zat organik, dan kemudian menimbang sisanya yang disebut abu. Penentuan demikian menjelaskan mengenai zat khusus yang terdapat pada materi pakan, dan abunya sanggup mengandung karbon yang berasal dari zat organik sebagai karbonat kalau terdapat terlalu banyak zat mineral pembentuk bara. Abu hasil pembakaran sanggup dipakai sebagai titik tolak untuk determinasi prosentase zat tertentu yang terdapat dalam materi pakan. 
Untuk mengetahui berapa jumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh badan serta bagaimana menyusun ransum, dibutuhkan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat-zat gizi tersebut (Tillman, 1991). Menurut porsinya, masing-masing zat gizi tersebut sanggup diketahui melalui suatu analisis proximat (Anggorodi, 1994).  



Analisis proximat menyangkut analisis kadar air, kadar abu, protein kasar, lemak garang serta serat kasar. Untuk memperoleh hasil analisis yang benar maka haruslah kita mengetahui cara-cara pokok dalam laboratorium, mencakup alat-alat  yang digunakan, cara penggunaan, materi kimia serta bahannya (Askar dan Lubis, 1985).  Kandungan gizi dalam suatu materi pakan akan membantu persiapan dan pengelolaan ternak terutama dalam meramu pakan yang dibutuhkan oleh ternak sesuai dengan tingkatan ternak (Kartadisastra, 1997). 
Analisa Kadar Air
Menurut Anggorodi (1994), banyaknya air yang terkandung dalam materi pakan diketahui kalau materi pakan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada suhu 105°C. Oleh alasannya itu terjadi penguapan air maka ukuran berat dari materi makanan tersebut menjadi berkurang. Bahan pakan dipanaskan sampai ukuran beratnya tetap. Ukuran berat sebelum dipanaskan dikurangi sesudahnya yaitu ukuran berat air.
Analisa Kadar Abu 
Menurut Anggorodi (1994), zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam materi pakan atau jaringan binatang ditentukan dengan memperabukan zat organik, dan kemudian menimbang sisanya yang disebut abu. Penentuan demikian menjelaskan mengenai zat khusus yang terdapat pada materi pakan, dan abunya sanggup mengandung karbon yang berasal dari zat organik sebagai karbonat kalau terdapat terlalu banyak zat mineral pembentuk bara. Abu hasil pembakaran sanggup dipakai sebagai titik tolak untuk determinasi prosentase zat tertentu yang terdapat dalam materi pakan.
Analisa Protein Kasar (PK)
Protein merupakan zat organik yang mengandung karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, belerang serta fosfor. Zat tersebut merupakan zat pakan utama, yang mengandung nitrogen, protein yaitu essensial bagi kehidupan alasannya zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup (Anggorodi,1994). Protein berfungsi sebagai zat pembangun dan pengganti sel yang rusak.
Analisa Lemak Kasar (LK)
Lemak merupakan sekelompok zat yang tidak larut air tetapi larut dalam eter, kloroform, dan benzena. Ditinjau dari sudut jumlahnya maka lemak merupakan bab yang penting dari golongan zat dalam badan binatang dan pakan, dimana lemak mengandung hydrogen dan karbon serta oksigen juga asam stearat (C57H110O6) (Anggorodi,1994). Menurut Rahardjo, dkk (2004), lemak garang merupakan adonan beberapa senyawa (lemak, minyak, lilin, asam organik, pigmen sterol, vitamin ADEK yang larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum ether, pethroleum benzen, dan lainnya).
Analisa Serat Kasar (SK)
Menurut Tillman (1991), serat garang merupakan salah satu nutrien yang terdiri dari selulosa, hemi selulosa agnin dan glirisida. Yang lain berfungsi sebagai pelindung dan bangunan tumbuh-tumbuhan. Menurut Anggorodi (1994), serat garang merupakan yang tidak sanggup larut dalam H2SO40,3 N dan didalam NaOH 1,5 N yang berturut-turut dimasak selama 30 menit.

Cara Menyusun Ransum Pakan Ternak Murah Dengan Materi Limbah Pertanian

Banyak peternak yang sering galau untuk menyusun ransum sederhana dengan bahan-bahan pakan limbah pertanian yang tersedia di kawasan mereka. Biasanya mereka galau memilih komposisi atau persentase tiap materi pakan yang akan digunakan semoga sesuai dengan standart gizi pakan yang bagus.
Pakan sapi potong umumnya berupa hijauan atau materi pakan sumber serat. Hal ini disebabkan dalam alat pencernaan ternak mengikutkan aktifitas mikroba yang terdapat didalam rumen. Oleh lantaran itu, dengan pengolahan limbah pertanian dalam bentuk complete feed sanggup membantu dalam mememnuhi kebutuhan ternak lantaran complete feed merupakan pakan lengkap untuk ternak ruminansia yang memeliki kandungan zat-zat masakan disusun dan diformulasi secara lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak.
Ampas Tahu

Dalam menyusun ransum pakan ternak/sapi, salah satu yang harus sangat dipertimbangkan yaitu duduk perkara harga pakan. Tidak ada gunanya pakan yang sangat anggun dengan kandungan nutrisi ideal tetapi harganya sangat mahal dan tidak memenuhi syarat nilai hemat usaha. Harga pakan yang terlalu mahal akan sangat membebani perjuangan peternakan lantaran biaya pakan mencapai 30% dari keseluruhan biaya produksi.

Harga pakan harus bisa mengcover kenaikan berat tubuh sapi sehingga biaya produksi bisa sesuai dengan estimasi harga penjualan. Inilah perlunya alternatif cara sederhana menyusun ransum ternak yang murah tetapi masih memenuhi syarat gizi standart untuk pakan ternak. Peternakan sapi potong di Indonesia umumnya berupa peternakan rakyat yang berintegrasi dengan tanaman pangan (smallholder crop-livestock system). Umumnya peternakan sapi yaitu petani yang juga menanam banyak sekali komoditas tanaman pangan. Kondisi tersebut mencerminkan pentingnya integrasi antara tanaman pangan dan sapi. Limbah hasil tanaman pangan dan perkebunan sanggup menjadi pakan ternak dengan memperbaiki kandungan nutrisinya.

Bahan Baku Pakan Asal Limbah Pertanian

Limbah PertanianLimbah Agroindustri
Jerami PadiDedak Padi
Jerami JagungAmpas Tahu
Tumpi JagungAmpas Pabrik Roti
Jerami KedelaiBungkil Kelapa
Jerami Kacang TanahKedelai Afkir
Jerami Kacang Hijau
Kulit Kacang Tanah

Pakan sapi potong umumnya berupa hijauan atau materi pakan sumber serat. Hal ini disebabkan dalam alat pencernaan ternak mengikutkan aktifitas mikroba yang terdapat didalam rumen. Oleh lantaran itu, dengan pengolahan limbah pertanian dalam bentuk complete feed sanggup membantu dalam mememnuhi kebutuhan ternak lantaran complete feed merupakan pakan lengkap untuk ternak ruminansia yang memeliki kandungan zat-zat masakan disusun dan diformulasi secara lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak.
Pembuatan complete feed berbahan dasar limbah pertanian ini perlu disosialisasikan kepada peternak semoga peternak bisa menyediakan pakan untuk ternaknya secara sanggup bangun diatas kaki sendiri sehingga usahanya sanggup berkembang biak dan memperoleh pendapatan yang besar.

Bahan Pakan Ternak dan Sumber Nutrisinya:
  1. Bahan Sumber Energi (dedak padi, jagung, molasses)
  2. Bahan Sumber Serat (kulit kacang tanah, tongkol jagung, tumpi jagung)
  3. Bahan Sumber Protein (bungkil kelapa, tepung ikan)
  4. Bahan Sumber Mineral (gram dapur, tepung keong, dsb)

Ciri Bahan Pakan Yang Baik:
  1. Bahan yang dipilih gampang didapat
  2. Kontinyu ketersediaannya
  3. Tidak beracun
  4. Palatabel/diskusi ternak

Persentase Bahan Pakan Penyusun Ransum :
Dedak padi, tumpi jagung, bungkil kelapa, jagung giling, molases dan mineral mix.

Formulasi Pakan Penguat (Konsentrat)

BahanKomposisi (%)
Dedak Padi29
Bungkil Kepala35
Jagung Giling15
Tumpi Jagung15
Mineral Mix0,6
Molases5
Total100

Cara Pencampuran Pakan
  • Bahan ditimbang sesuai formulasi 
  • Bahan ditumpuk merata paling bawah komposisinya

  • Kemudian dicampur secara merata (proses pencampuran bisa memakai sekop,bisa juga memakai mixer)

  • Pakan Siap diaplikasi ke ternak


Pakan disusun dari bahan-bahan lokal yang gampang diperoleh petani. Pakan murah dibentuk mengandung protein sebesar 15%. (Harga pakan akan sangat tergantung dari harga masing-masing materi pakan penyusunnya yang biasanya harganya berbeda antara kawasan yang satu dengan kawasan yang lainnya. Pakan yang sudah jadi diberikan keternak sebesar 1-2  % dari Bobot badan.
(Sumber data:http://sulsel.litbang.pertanian.go.id)

Tuesday, 3 July 2018

Palatabilitas Dan Temperatur Besar Lengan Berkuasa Besar Pada Konsumsi Pakan Ternak

Faktor-faktor yang kuat terhadap konsumsi Pakan dan Jenis-jenis Pakan.


Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.

Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri). 

Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan bersahabat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang mencakup jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan epilog tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya jawaban imbas lingkungan.
Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan lantaran ternak membutuhkan embel-embel panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengancara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.

Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai jawaban dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya mirip kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa anggun dan dingin daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi bersahabat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang kala terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia mirip umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mensugesti konsumsi pakannya.
Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat kuat terhadap konsumsi pakan yaitu konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat kalau konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.
Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibentuk pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan bersahabat dengan ukuran partikel yang lebih gampang dikonsumsi dan dicerna. Oleh lantaran itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat tubuh ternak yang sangat bervariasi. Hal ini sanggup dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat tubuh metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat tubuh ternak sanggup diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat tubuh ternak sanggup diukur dengan cara mengukur panjang
badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat tubuh diukur dengan memakai formula:

Berat tubuh = Panjang tubuh (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661

Berat tubuh metabolis (bobot tubuh) sanggup dihitung dengan cara meningkatkan berat tubuh dengan nilai 0,75

Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75
Produksi
Ternak ruminansia, produksi sanggup berupa pertambahan berat tubuh (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

Kandungan Nutrisi Pakan Ternak
Setiap materi pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan materi pakan tersebut yang secara kompak akan mensugesti tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam materi pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut sanggup diketahui melalui proses analisis terhadap materi pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.

Peralatan Pembuatan Pakan Ternak
1)
Macam-Macam Silo
Silo sanggup dibentuk dengan banyak sekali macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, materi yang dipakai dan luas areal yang tersedia. Beberapa silo yang sudah dikenal adalah:
a. Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di berdiri di dalam tanah.
b. Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk abjad V.
c. Fench Silo: silo yang bentuknya mirip pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.
d. Tower Silo: silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bab atasnya tertutup rapat.
e. Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk mirip kotak.
2)
Cara Memformulasi Pakan
Dalam memformulasikan penyusunan ransum atau pakan, perlu memakai Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. Sebagai pola kebutuhan nutrisi dalam penyusunan ransum bagi sapi perah yaitu sebagai berikut :
Sapi perah betina muda berat 350 kg, satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan), membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi sebagai berikut:
a. Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi :
  Bahan Kering=6,4 Kg,
  ME=13 Mcal,
  Protein=570 gram,
  Mineral=37 kg.
b. Laktasi I :
Bahan Kering=1,0 Kg, ME=2,02 Mcal, Protein=93,6 gram, Mineral=5 kg.
c. Sehingga jumlah Bahan Kering=7,4 kg, ME=15,02 kg, Protein=663,6 gram, Mineral=42 gram.

Dari kebutuhan nutrisi tersebut, kebutuhan pakannya sanggup diformulasikan dengan suatu metode. Misalnya bahan-bahan pakan yang tersedia adalah:
a. Rumput gajah:
Bahan Kering=16%, ME=0,33 Mcal, Protein=1,8 gram%BK, Mineral=2,5 gram%BK
b. Rumput Kedele:
Bahan Kering=93,5%, ME=3,44 Mcal, Protein=44,9 gram%BK, Mineral=6,3 gram%BK
c. Bungkil kelapa:
Bahan Kering=86%, ME=2,86 Mcal, Protein=18,6 gram%BK, Mineral=5,5 gram%BK

Rumput gajah akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan materi kering sebanyak 80%
= 80/100X7,4 kg = 5,92 kg BK.

Maka kandungan protein yang sudah sanggup dipenuhi rumput adalah: sebanyak
= 1,8/100 X 5,92 kg = 106,56 gram protein.

Kekurangan:
Bahan kering = 7,4 - 5,92 kg = 1,48 kg
Protein = (663,6 - 106,56) gram = 557,04 kg atau 557,04/1480 X 100% = 37,64%.

Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:
19,04/26,3 X 1,48 kg = 1,07 kg BK.

Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:
7,26/26,3 X 1,48 kg = 0,41 kg BK.

Jadi, jumlah materi pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dengan kondisi tersebut di atas adalah:
Rumput gajah = 5,92 X 100/16 kg = 37 kg
Bungkil kedelai = 1,07 X 100/93,5 kg = 1,14 kg
Bungkil kelapa = 0,41 X 100/86 kg = 0,48 kg.
3)
Teknologi Pakan
Teknologi pakan ternak ruminansia mencakup kegiatan pengolahan materi pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berkhasiat menjadi produk yang berdaya guna.

Pengolahan materi pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi akomodasi bagi ternak yang mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah beberapa materi kimia pada materi pakan supaya dinding sel tumbuhan yang semula berstruktur sangat keras bermetamorfosis lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya.

Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis dan tropis, akan tetapi sering menimbulkan pakan menjadi tidak hemat dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya, terutama dalam penerapannya di tingkat peternak.

Beberapa teknik pengolahan materi pakan yang gampang dilakukan di lapangan adalah:
a.
Pembuatan Hay

Hay yaitu tumbuhan hijauan pakan ternak, berupa rumputrumputan/ leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air: 20-30%.

Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen supaya tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, alasannya tumbuhan yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay yaitu supaya tumbuhan hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) sanggup disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga sanggup mengatasi kesulitan dalam mendapat pakan hijauan pada trend kemarau.

Ada 2 metode pembuatan Hay yang sanggup diterapkan yaitu:
a) Metode Hamparan Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik sampai kering. Hay yang dibentuk dengan cara ini biasanya mempunyai kadar air: 20 - 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).
b) Metode Pod Dilakukan dengan memakai semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ±50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen ketika menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat berangasan dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menimbulkan turunnya palatabilitas dan kualitas.
b)
Pembuatan Silase

Silase yaitu materi pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di trend kemarau atau ketika penggembalaan ternak mustahil dilakukan.

Prinsip utama pembuatan silase:
a) menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap
    udara.
c) menahan kegiatan enzim dan basil pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut sanggup diketahui secara organoleptik, yakni:
a) mempunyai tekstur segar
b) berwarna kehijau-hijauan
c) tidak berbau
d) disukai ternak
e) tidak berjamur
f) tidak menggumpal

Beberapa metode dalam pembuatan silase:
1. Metode Pemotongan

- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
- Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
- Tutup dengan plastik dan tanah
2. Metode Pencampuran

Hijauan dicampur materi lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan basil pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan gabungan sanggup berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok dengan takaran per ton hijauan sebagai berikut:
- asam organik: 4-6kg
- molases/tetes: 40kg
- garam : 30kg
- dedak padi: 40kg
- menir: 35kg
- onggok: 30kg
Pemberian materi embel-embel tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila memakai molases/tetes lakukan secara sedikit demi sedikit dengan perbandingan 2 bab pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bab pada lapisan tengah dan 5 bab pada lapisan atas supaya terjadi pencampuran yang merata.
3. Metode Pelayuan

- Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan materi kering
   40% - 50%)
- Lakukan mirip metode pemotongan
c)
Amoniasi

Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap materi pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan materi kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi sanggup memakai urea sebagai materi kimia supaya biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang dibutuhkan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).
d)
Pakan Pemacu

Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga sanggup merangsang penambahan jumlah konsumsi serat berangasan yang akan meningkatkan produksi.

Molases sebagai materi dasar pakan pemacu merupakan materi pakan yang sanggup difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga sanggup meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan materi pakan sumber nitrogen yang sanggup difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein berangasan (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat berangasan dan daya cerna.
1. Proses Pembuatan
Dilakukan dalam suasana hangat dan sedikit demi sedikit :
- Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat C.
- Buat gabungan I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai 13%).
- Buat gabungan II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).
- Buat gabungan III (tepung tulang 5% dan mineral 1%).
- Buat gabungan IV dari gabungan I, II, III yang diaduk merata.
- Masukkan gabungan IV sedikit sedikit ke dalam molases, diaduk hingga
   merata (±15 menit).
- Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan padatkan.
- Simpan di tempat teduh dan kering.
2. Kualitas Nutrisi
Hasil analisis proksimat, pakan pamacu yang dibentuk dengan formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal, protein 24%, kalsium 2,83% dan fosfor 0,5%.
3. Jumlah dan Metode Pemberian
Pemberian pakan pamacu sanggup meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter. Jumlah pertolongan pakan pemacu diubahsuaikan dengan jenis dan berat tubuh ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat tubuh dan 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang digembalakan dan diberi sisa tumbuhan pangan mirip jerami atau materi pakan berkadar protein rendah.
e)
Pakan Penguat

Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk mirip tepung yaitu sejenis pakan komplet yang dibentuk khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Praktis dicerna, lantaran terbuat dari gabungan beberapa materi pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
1. Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa materi pakan gampang diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa kawasan lain sulit didapat. Harga perunit materi pakan sangat berbeda antara satu kawasan dan kawasan lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.
2. Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat berangasan 12%.
3. Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat yaitu metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi atau metode grafik.
4.
Prosedur Memformulasi
- Buat daftar materi pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga per unit protein.
- Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.
- Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
- Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) materi pakan sebagai sumber vitamin dan mineral.
- Tentukan sebanyak 30% materi pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat dipakai lebih dari 1 macam materi pakan).
- Tentukan sebanyak 18% materi pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
- Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
- Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.
(Sumber: http://warintek.bantulkab.go.id)

Arti Dan Potensi Hijauan Di Padang Penggembalaan

Apa yang dimaksud dengan Padang Penggembalaan?

Padang penggembalaan yaitu tempat atau lahan yang ditanami rumput unggul dan atau legume (jenis rumput/legume yang tahan terhadap injakan ternak) yang dipakai untuk menggembalakan ternak.
Padang penggembalaan mempunyai klasifikasi, diantaranya padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang sudah di upgrade, padang penggembalaan temporer dan padang panggembalaan irigasi.
Pengertian Sistem Penggembalaan Ternak
 
Sistem penggembalaan yaitu pemeliharaan ternak sapi dengan dilepaskan di padang penggembalaan yang luas.
Syarat rumput yang baik yaitu mempunyai produksi hijauan tinggi dan berkualitas baik, dan persisten / bisa bersanding dengan tanaman lain. Pastura yang baik nilai cernanya yaitu pastura yang tinggi kanopinya yaitu 25–30 cm sesudah dipotong.
Banyak laba dari cara memelihara ternak sapi dengan digembalakan, laba dan keunggulan yang paling utama yaitu irit dalam biaya pakan alasannya yaitu ibarat diketahui untuk perjuangan breeding atau pemuliabiakan ternak, pakan yaitu komponen yang menyumbang biaya sangat tinggi. Dengan menggembalakan sapi di pastura atau padang rumput maka biaya pakan bisa dianggap zero. Yang perlu diperhatikan yaitu kemampuan pastura dalam menyediakan hijauan pakan untuk ternak sapi sepanjang tahun. Berapa ekor jumlah sapi yang bisa ditampung dalam satu pastura per periode harus menjadi pertimbangan utama dikala akan memanfaatkan padang rumput sebagai media utama untuk peternakan sapi. Ada isu bahaw idealnya untuk 1 ekor sapi membutuhkan luasan padang rumput sekitar 1 hektar.

Untuk potensi kawasan yang masih bisa dikembangkan yaitu di Indonesia bab timur ibarat di NTT misalnya.

Potensi Ladang Penggembalaan di NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai areal padang penggembalaan sapi ratusan ribu hektar, ibarat yang ditemukan di Kabupaten Sumba Timur dan Timor Tengah Selatan (TTS). Dengan memanfaatkan padang penggembalaan secara optimal, diperlukan akan menurunkan harga sapi lokal jikalau dibandingkan dengan sapi impor sehingga bersaing dengan negara lain.

Laman resmi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian – Kementan memuat, rincian potensi luasan padang penggembalaan di NTT yaitu : Kota Kupang sendiri mempunyai areal penggembalaan sapi seluas 150 hektar, Kabupaten Kupang dan Sabu Raijua 159 hektar. Kemudian Kabupaten TTS mempunyai area 114.396 hektar, TTU 86.339 hektar, Belu 19.698 hektar, Alor 16.166 hektar, Lembata 23.255 hektar, Flores Timur 33.291 hektar, Sikka 19.389 hektar, Ende 910 hektar, Ngada dan Nagekeo 23.668 hektar, Manggarai dan Manggarai Timur 1.550 hektar, Manggarai Barat 16.900 hektar, Sumba Timur 215.799 hektar, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya 83.635 hektar dan Rote Ndao 17.556 hektar.

Penggembalaan ternak di padang penggembalaan mencakup beberapa metode, diantaranya cara ekstensif yaitu dengan menggembalakan ternak di padangan yang luas tanpa erosi. Metode semi-ekstensif dengan melaksanakan rotasi namun pemilihan hijauan masih bebas. Sedangkan cara intensif dilakukan dengan rotasi tiap petak dengan hijauan dibatasi, strip grazing dengan menempatkan kawat sekeliling ternak yang bisa dipindah dan rolling dengan hijauan padangan yang dipotong dan diberikan kepada ternak di sangkar peneduh.

Pemeliharaan sapi di padang gembala dilakukan dengan sistem semi intensif, dikala pagi hari (jam 10.00) ternak digiring ke padang penggembalaan dengan sistem penggembalaan bergilir. Pada sore (jam 16.00) hari ternak digiring kembali ke sangkar dan diberi pakan hijauan rumput potong (rumput gajah).

Sumber Trobos.com