Showing posts with label Dokter. Show all posts
Showing posts with label Dokter. Show all posts

Friday, 8 June 2018

Bukan Tak Percaya Dokter

Saat membaca goresan pena di beberapa daerah mengenai kerjasama dokter dengan farmasist ataupun pabrikan obat, saya hanya tersenyum, alasannya ialah saya sudah pernah membicarakan perihal fenomena itu dengan my hubby beberapa waktu yang lalu. Bahkan, pada dikala kami masih rajin-rajinnya ke dokter untuk memeriksakan kehamilan dan cek kesehatan si sulung. 

Dan, terkait mengapa alhasil kami tidak sering ke dokter kalau belum dewasa atau kami sakit, itu ialah alasannya ialah my hubby mulai menyadari bahwa badan kita mempunyai energi untuk melaksanakan recovery diri. 
Kalau saya eksklusif sih, memang dari kecil tidak dekat dengan obat dan dokter. Karena saya takut disuntik hehehe ... 
So, di rumah, kami paling sedia obat gosok semacam minyak kayu putih atau minyak telon, atau jenis-jenis minyak gosok lainnya, cairan infus untuk luka, kapas, dan umbi-umbian, semacam kunyit, temulawak, kencur, dan jahe, serta madu atau gula siwalan. 

Jika ada keluhan pusing atau demam, batuk, pilek, meriang, maka obat gosok dan minuman dari salah satu umbi-umbian itu akan meringankan. Nah, kembali ke dokter yang berhubungan dengan farmasist atau pabrikan obat, itu terlihat kentara pada resep obat yang diberikan. Atau, pada obat yang disediakan oleh dokter di etalase obatnya. Isi etalasi itu biasanya sangat senada. Obat keluaran satu pabrikan. Saat mendapatkan obat, biasanya saya memang mengecek nama obat dan hukum pakainya, bahkan meskipun sudah ada goresan pena di kertas kecil segiempat mengenai hukum minumnya. 

Nah, mengenai pemakaian antibiotik, saya pernah menerima klarifikasi dari seorang dokter seorang hebat kulit dan kelamin, bahwa kalau ditanyai sama dokter, apakah menentukan obat generic atau antibiotik kategori yang manis dengan harga yang lebih mahal. Maka kata dokter tersebut, lebih baik menentukan mbat generic, alasannya ialah antibiotik yang kategori lebih tinggi justru akan mengganggu antibodi kita. 
Begitulah ... Dan, akhirnya. Alhamdulillah, keyakinan kami bahwa badan kita diciptakan dengan sempurna, sangat membantu kami untuk meyakini, bahwa setiap penyakit yang diberikan ialah sebatas kemampuan badan untuk melaluinya. Karena energiNya sangat sempurna. 
So, bukan berarti kami tidak percaya dengn dokter, tetapi pengalaman kami dikala berinteraksi secara lebih dekat dan dekat dengan beliau-beliau justru banyak memberi manfaat dan pegetahuan, mengenai bagaimana melaksanakan recovery dikala sakit, dan bagaimana seharusnya menjaga kesehatan tanpa harus bergantung pada obat-obatan kimia.

Pic. by @mom_of_five

Tuesday, 5 June 2018

Persalinan Ke-Enam Pada Kehamilan Usia 40-An

Benar-benar kehidupan itu dimulai pada ketika kita berusia 40. Life begins at fourty. Jika pada usia 40 tahun kemarin saya mendapat banyak gift dari Allah dengan kejutan-kejutan seru berupa jalan-jalan gratis ke luar negeri dari lomba blog PT Telkom Indonesia, menerbitkan buku antologi dan menerbitkan buku berdikari hadiah dari lomba blog yang diselenggarakan oleh Pak Dhe Cholik dengan tema Proyek Monumental. Maka pada ketika usia 41 tahun kemarin ada hadiah jalan-jalan gratis lagi ke Jakarta berdua bersama my hubby. Selama satu ahad kami di sana (pada bulan Juni 2015, pas bulan Ramadhan) di Kampus PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Tepatnya sih ke asramanya mahasiswa yang kesemuanya yaitu anggota Polisi yang sedang study. 
Dan... pada tahun itu juga ada kabar yang cukup menjadi sebuah kejutan, alasannya yaitu di usia yang ke 41 itu, saya hamil lagi yang ke enam. Hingga akhirnya, ketika usia saya 42 tahun, kelahiran putra ke enam kami pun menjadi hadiah yang sangat indah bagi kami sekeluarga.

Putra Ke-Enam Baru Keluar dari Ruang Operasi Bersama My Hubby (Pic. by Nur Muhammad)
Seperti pada kehamilan sebelum-sebelumnya, kecuali pada kehamilan pertama, saya tidak mencicipi banyak gangguan pada acara saya. Hanya saja pada kehamilan ke enam ini, saya mencicipi kontraksi palsu lebih sering dan pada ahad ke 36 saya diminta untuk istirahat alasannya yaitu sudah ada gejala pembukaan 1. Dan... saya juga mencicipi lebih berat di perut bab bawah. Mungkin efek usia dan efek kurangnya saya bergerak (kebanyakan acara saya sambil duduk di belakang meja), sehingga saya sering merasa tidak lezat pada perut bab bawah.

Namuun,.... secara umum semua baik-baik saja. Setiap konsultasi ke dokter, hasilnya selalu baik. Hasil USG selalu menawarkan bahwa kondisi ibu dan janin sangat baik.

Hingga akhirnyaaaa ..... pada tanggal 25 April 2016 kemarin saya menjalani persalinan yang ke enam. Sebuah persalinan yang menjadi pengalaman pertama bagi saya, alasannya yaitu inilah persalinan satu-satunya yang harus saya jalani melalui operasi cesar (sectum cesario, sectio caesaria). 

Saya sendiri tidak ada persiapan apa-apa untuk menjalani operasi cesar ini, alasannya yaitu keputusan diambil pada malam hari, sesudah dua hari (Sabtu dan Minggu) saya menginap di Rumah Sakit sambil menunggu persalinan normal, dan eksklusif diputuskan untuk operasi. Karena pada awalnya saya dan dokter yang menangani saya memang sangat optimis dengan kelahiran normal. Bayangkan saja, lima anak saya semuanya lahir dengan cara normal. Padahal mereka semua lahir dengan berat tubuh 4kg untuk anak pertama, kedua, dan ketiga, 3,6kg untuk anak ke empat, dan 4,2kg untuk anak kelima. Sooo ... dengan melihat histori medis saya tersebut, dokter pun dengan optimis mengarahkan saya ke persalinan normal. Karena bbj si kecil juga tidak melebihi kakak-kakaknya, yaitu hanya 3,75kg.

Daaan ... begitulah, alasannya yaitu pada ahad malam, tidak juga ada gejala persalinan saya rasakan, padahal sudah melampaui HPL (yang ditetapkan pada 13 April 2016), sudah diinduksi secara oral (dengan mengonsumsi Gastrul), dan juga dengan infus hingga habis dua kantung. Hingga malam itu, ketika dokter pun memberi alternatif kepada saya untuk dilakukan operasi cesar saja besok pagi, alasannya yaitu dikhawatirkan janin mengalami stres. Juga saya sendiri sudah jenuh menunggu di rumah sakit. Dan, persiapan operasi pun dilakukan untuk dilakukan operasi cesar pada pukul 9 pagi di hari Senin. Sayangnya, alasannya yaitu ketidaktahuan saya, pada pagi hari saya menikmati sarapan pagi, sehingga operasi harus ditunda sesudah dhuhur. So, saya harus menunggu lagi untuk masuk ke ruang operasi .

Hingga akhirnya, saatnya saya harus masuk ke ruang operasi. Dan, ini yaitu pengalaman pertama saya menjalani operasi, yang merupakan operasi besar. Apalagi saya juga mendapat bius total (general).
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, dan si kecil pun lahir dengan selamat, sehat, dan tepat .....


Thursday, 19 April 2018

Bukan Tak Percaya Dokter

Saat membaca goresan pena di beberapa daerah mengenai kerjasama dokter dengan farmasist ataupun pabrikan obat, saya hanya tersenyum, alasannya ialah saya sudah pernah membicarakan perihal fenomena itu dengan my hubby beberapa waktu yang lalu. Bahkan, pada dikala kami masih rajin-rajinnya ke dokter untuk memeriksakan kehamilan dan cek kesehatan si sulung. 

Dan, terkait mengapa alhasil kami tidak sering ke dokter kalau belum dewasa atau kami sakit, itu ialah alasannya ialah my hubby mulai menyadari bahwa badan kita mempunyai energi untuk melaksanakan recovery diri. 
Kalau saya eksklusif sih, memang dari kecil tidak dekat dengan obat dan dokter. Karena saya takut disuntik hehehe ... 
So, di rumah, kami paling sedia obat gosok semacam minyak kayu putih atau minyak telon, atau jenis-jenis minyak gosok lainnya, cairan infus untuk luka, kapas, dan umbi-umbian, semacam kunyit, temulawak, kencur, dan jahe, serta madu atau gula siwalan. 

Jika ada keluhan pusing atau demam, batuk, pilek, meriang, maka obat gosok dan minuman dari salah satu umbi-umbian itu akan meringankan. Nah, kembali ke dokter yang berhubungan dengan farmasist atau pabrikan obat, itu terlihat kentara pada resep obat yang diberikan. Atau, pada obat yang disediakan oleh dokter di etalase obatnya. Isi etalasi itu biasanya sangat senada. Obat keluaran satu pabrikan. Saat mendapatkan obat, biasanya saya memang mengecek nama obat dan hukum pakainya, bahkan meskipun sudah ada goresan pena di kertas kecil segiempat mengenai hukum minumnya. 

Nah, mengenai pemakaian antibiotik, saya pernah menerima klarifikasi dari seorang dokter seorang hebat kulit dan kelamin, bahwa kalau ditanyai sama dokter, apakah menentukan obat generic atau antibiotik kategori yang manis dengan harga yang lebih mahal. Maka kata dokter tersebut, lebih baik menentukan mbat generic, alasannya ialah antibiotik yang kategori lebih tinggi justru akan mengganggu antibodi kita. 
Begitulah ... Dan, akhirnya. Alhamdulillah, keyakinan kami bahwa badan kita diciptakan dengan sempurna, sangat membantu kami untuk meyakini, bahwa setiap penyakit yang diberikan ialah sebatas kemampuan badan untuk melaluinya. Karena energiNya sangat sempurna. 
So, bukan berarti kami tidak percaya dengn dokter, tetapi pengalaman kami dikala berinteraksi secara lebih dekat dan dekat dengan beliau-beliau justru banyak memberi manfaat dan pegetahuan, mengenai bagaimana melaksanakan recovery dikala sakit, dan bagaimana seharusnya menjaga kesehatan tanpa harus bergantung pada obat-obatan kimia.

Pic. by @mom_of_five

Tuesday, 17 April 2018

Persalinan Ke-Enam Pada Kehamilan Usia 40-An

Benar-benar kehidupan itu dimulai pada ketika kita berusia 40. Life begins at fourty. Jika pada usia 40 tahun kemarin saya mendapat banyak gift dari Allah dengan kejutan-kejutan seru berupa jalan-jalan gratis ke luar negeri dari lomba blog PT Telkom Indonesia, menerbitkan buku antologi dan menerbitkan buku berdikari hadiah dari lomba blog yang diselenggarakan oleh Pak Dhe Cholik dengan tema Proyek Monumental. Maka pada ketika usia 41 tahun kemarin ada hadiah jalan-jalan gratis lagi ke Jakarta berdua bersama my hubby. Selama satu ahad kami di sana (pada bulan Juni 2015, pas bulan Ramadhan) di Kampus PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Tepatnya sih ke asramanya mahasiswa yang kesemuanya yaitu anggota Polisi yang sedang study. 
Dan... pada tahun itu juga ada kabar yang cukup menjadi sebuah kejutan, alasannya yaitu di usia yang ke 41 itu, saya hamil lagi yang ke enam. Hingga akhirnya, ketika usia saya 42 tahun, kelahiran putra ke enam kami pun menjadi hadiah yang sangat indah bagi kami sekeluarga.

Putra Ke-Enam Baru Keluar dari Ruang Operasi Bersama My Hubby (Pic. by Nur Muhammad)
Seperti pada kehamilan sebelum-sebelumnya, kecuali pada kehamilan pertama, saya tidak mencicipi banyak gangguan pada acara saya. Hanya saja pada kehamilan ke enam ini, saya mencicipi kontraksi palsu lebih sering dan pada ahad ke 36 saya diminta untuk istirahat alasannya yaitu sudah ada gejala pembukaan 1. Dan... saya juga mencicipi lebih berat di perut bab bawah. Mungkin efek usia dan efek kurangnya saya bergerak (kebanyakan acara saya sambil duduk di belakang meja), sehingga saya sering merasa tidak lezat pada perut bab bawah.

Namuun,.... secara umum semua baik-baik saja. Setiap konsultasi ke dokter, hasilnya selalu baik. Hasil USG selalu menawarkan bahwa kondisi ibu dan janin sangat baik.

Hingga akhirnyaaaa ..... pada tanggal 25 April 2016 kemarin saya menjalani persalinan yang ke enam. Sebuah persalinan yang menjadi pengalaman pertama bagi saya, alasannya yaitu inilah persalinan satu-satunya yang harus saya jalani melalui operasi cesar (sectum cesario, sectio caesaria). 

Saya sendiri tidak ada persiapan apa-apa untuk menjalani operasi cesar ini, alasannya yaitu keputusan diambil pada malam hari, sesudah dua hari (Sabtu dan Minggu) saya menginap di Rumah Sakit sambil menunggu persalinan normal, dan eksklusif diputuskan untuk operasi. Karena pada awalnya saya dan dokter yang menangani saya memang sangat optimis dengan kelahiran normal. Bayangkan saja, lima anak saya semuanya lahir dengan cara normal. Padahal mereka semua lahir dengan berat tubuh 4kg untuk anak pertama, kedua, dan ketiga, 3,6kg untuk anak ke empat, dan 4,2kg untuk anak kelima. Sooo ... dengan melihat histori medis saya tersebut, dokter pun dengan optimis mengarahkan saya ke persalinan normal. Karena bbj si kecil juga tidak melebihi kakak-kakaknya, yaitu hanya 3,75kg.

Daaan ... begitulah, alasannya yaitu pada ahad malam, tidak juga ada gejala persalinan saya rasakan, padahal sudah melampaui HPL (yang ditetapkan pada 13 April 2016), sudah diinduksi secara oral (dengan mengonsumsi Gastrul), dan juga dengan infus hingga habis dua kantung. Hingga malam itu, ketika dokter pun memberi alternatif kepada saya untuk dilakukan operasi cesar saja besok pagi, alasannya yaitu dikhawatirkan janin mengalami stres. Juga saya sendiri sudah jenuh menunggu di rumah sakit. Dan, persiapan operasi pun dilakukan untuk dilakukan operasi cesar pada pukul 9 pagi di hari Senin. Sayangnya, alasannya yaitu ketidaktahuan saya, pada pagi hari saya menikmati sarapan pagi, sehingga operasi harus ditunda sesudah dhuhur. So, saya harus menunggu lagi untuk masuk ke ruang operasi .

Hingga akhirnya, saatnya saya harus masuk ke ruang operasi. Dan, ini yaitu pengalaman pertama saya menjalani operasi, yang merupakan operasi besar. Apalagi saya juga mendapat bius total (general).
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, dan si kecil pun lahir dengan selamat, sehat, dan tepat .....


Saturday, 7 April 2018

Bukan Tak Percaya Dokter

Saat membaca goresan pena di beberapa daerah mengenai kerjasama dokter dengan farmasist ataupun pabrikan obat, saya hanya tersenyum, alasannya ialah saya sudah pernah membicarakan perihal fenomena itu dengan my hubby beberapa waktu yang lalu. Bahkan, pada dikala kami masih rajin-rajinnya ke dokter untuk memeriksakan kehamilan dan cek kesehatan si sulung. 

Dan, terkait mengapa alhasil kami tidak sering ke dokter kalau belum dewasa atau kami sakit, itu ialah alasannya ialah my hubby mulai menyadari bahwa badan kita mempunyai energi untuk melaksanakan recovery diri. 
Kalau saya eksklusif sih, memang dari kecil tidak dekat dengan obat dan dokter. Karena saya takut disuntik hehehe ... 
So, di rumah, kami paling sedia obat gosok semacam minyak kayu putih atau minyak telon, atau jenis-jenis minyak gosok lainnya, cairan infus untuk luka, kapas, dan umbi-umbian, semacam kunyit, temulawak, kencur, dan jahe, serta madu atau gula siwalan. 

Jika ada keluhan pusing atau demam, batuk, pilek, meriang, maka obat gosok dan minuman dari salah satu umbi-umbian itu akan meringankan. Nah, kembali ke dokter yang berhubungan dengan farmasist atau pabrikan obat, itu terlihat kentara pada resep obat yang diberikan. Atau, pada obat yang disediakan oleh dokter di etalase obatnya. Isi etalasi itu biasanya sangat senada. Obat keluaran satu pabrikan. Saat mendapatkan obat, biasanya saya memang mengecek nama obat dan hukum pakainya, bahkan meskipun sudah ada goresan pena di kertas kecil segiempat mengenai hukum minumnya. 

Nah, mengenai pemakaian antibiotik, saya pernah menerima klarifikasi dari seorang dokter seorang hebat kulit dan kelamin, bahwa kalau ditanyai sama dokter, apakah menentukan obat generic atau antibiotik kategori yang manis dengan harga yang lebih mahal. Maka kata dokter tersebut, lebih baik menentukan mbat generic, alasannya ialah antibiotik yang kategori lebih tinggi justru akan mengganggu antibodi kita. 
Begitulah ... Dan, akhirnya. Alhamdulillah, keyakinan kami bahwa badan kita diciptakan dengan sempurna, sangat membantu kami untuk meyakini, bahwa setiap penyakit yang diberikan ialah sebatas kemampuan badan untuk melaluinya. Karena energiNya sangat sempurna. 
So, bukan berarti kami tidak percaya dengn dokter, tetapi pengalaman kami dikala berinteraksi secara lebih dekat dan dekat dengan beliau-beliau justru banyak memberi manfaat dan pegetahuan, mengenai bagaimana melaksanakan recovery dikala sakit, dan bagaimana seharusnya menjaga kesehatan tanpa harus bergantung pada obat-obatan kimia.

Pic. by @mom_of_five

Thursday, 5 April 2018

Persalinan Ke-Enam Pada Kehamilan Usia 40-An

Benar-benar kehidupan itu dimulai pada ketika kita berusia 40. Life begins at fourty. Jika pada usia 40 tahun kemarin saya mendapat banyak gift dari Allah dengan kejutan-kejutan seru berupa jalan-jalan gratis ke luar negeri dari lomba blog PT Telkom Indonesia, menerbitkan buku antologi dan menerbitkan buku berdikari hadiah dari lomba blog yang diselenggarakan oleh Pak Dhe Cholik dengan tema Proyek Monumental. Maka pada ketika usia 41 tahun kemarin ada hadiah jalan-jalan gratis lagi ke Jakarta berdua bersama my hubby. Selama satu ahad kami di sana (pada bulan Juni 2015, pas bulan Ramadhan) di Kampus PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Tepatnya sih ke asramanya mahasiswa yang kesemuanya yaitu anggota Polisi yang sedang study. 
Dan... pada tahun itu juga ada kabar yang cukup menjadi sebuah kejutan, alasannya yaitu di usia yang ke 41 itu, saya hamil lagi yang ke enam. Hingga akhirnya, ketika usia saya 42 tahun, kelahiran putra ke enam kami pun menjadi hadiah yang sangat indah bagi kami sekeluarga.

Putra Ke-Enam Baru Keluar dari Ruang Operasi Bersama My Hubby (Pic. by Nur Muhammad)
Seperti pada kehamilan sebelum-sebelumnya, kecuali pada kehamilan pertama, saya tidak mencicipi banyak gangguan pada acara saya. Hanya saja pada kehamilan ke enam ini, saya mencicipi kontraksi palsu lebih sering dan pada ahad ke 36 saya diminta untuk istirahat alasannya yaitu sudah ada gejala pembukaan 1. Dan... saya juga mencicipi lebih berat di perut bab bawah. Mungkin efek usia dan efek kurangnya saya bergerak (kebanyakan acara saya sambil duduk di belakang meja), sehingga saya sering merasa tidak lezat pada perut bab bawah.

Namuun,.... secara umum semua baik-baik saja. Setiap konsultasi ke dokter, hasilnya selalu baik. Hasil USG selalu menawarkan bahwa kondisi ibu dan janin sangat baik.

Hingga akhirnyaaaa ..... pada tanggal 25 April 2016 kemarin saya menjalani persalinan yang ke enam. Sebuah persalinan yang menjadi pengalaman pertama bagi saya, alasannya yaitu inilah persalinan satu-satunya yang harus saya jalani melalui operasi cesar (sectum cesario, sectio caesaria). 

Saya sendiri tidak ada persiapan apa-apa untuk menjalani operasi cesar ini, alasannya yaitu keputusan diambil pada malam hari, sesudah dua hari (Sabtu dan Minggu) saya menginap di Rumah Sakit sambil menunggu persalinan normal, dan eksklusif diputuskan untuk operasi. Karena pada awalnya saya dan dokter yang menangani saya memang sangat optimis dengan kelahiran normal. Bayangkan saja, lima anak saya semuanya lahir dengan cara normal. Padahal mereka semua lahir dengan berat tubuh 4kg untuk anak pertama, kedua, dan ketiga, 3,6kg untuk anak ke empat, dan 4,2kg untuk anak kelima. Sooo ... dengan melihat histori medis saya tersebut, dokter pun dengan optimis mengarahkan saya ke persalinan normal. Karena bbj si kecil juga tidak melebihi kakak-kakaknya, yaitu hanya 3,75kg.

Daaan ... begitulah, alasannya yaitu pada ahad malam, tidak juga ada gejala persalinan saya rasakan, padahal sudah melampaui HPL (yang ditetapkan pada 13 April 2016), sudah diinduksi secara oral (dengan mengonsumsi Gastrul), dan juga dengan infus hingga habis dua kantung. Hingga malam itu, ketika dokter pun memberi alternatif kepada saya untuk dilakukan operasi cesar saja besok pagi, alasannya yaitu dikhawatirkan janin mengalami stres. Juga saya sendiri sudah jenuh menunggu di rumah sakit. Dan, persiapan operasi pun dilakukan untuk dilakukan operasi cesar pada pukul 9 pagi di hari Senin. Sayangnya, alasannya yaitu ketidaktahuan saya, pada pagi hari saya menikmati sarapan pagi, sehingga operasi harus ditunda sesudah dhuhur. So, saya harus menunggu lagi untuk masuk ke ruang operasi .

Hingga akhirnya, saatnya saya harus masuk ke ruang operasi. Dan, ini yaitu pengalaman pertama saya menjalani operasi, yang merupakan operasi besar. Apalagi saya juga mendapat bius total (general).
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, dan si kecil pun lahir dengan selamat, sehat, dan tepat .....