Ternyata Indonesia tidak akan pernah habis dalam hal burung - burung langka ini termasuk di dalamnya yaitu Burung Cenderawasih, dan lagi - lagi Papua yaitu salah satu penyumbang terbanyak dalam hal burung hias di Indonesia.
Burung Cendrawasih ( Bird of Paradise) adalah salah satu spesies fauna endemik yang sangat terkenal asal tanah Papua.
Begitu terkenalnya sehingga namanya sering digunakan untuk menamai banyak sekali tempat dan aktifitas di provinsi tertimur ini.
Dari 27 jenis yang terdapat di tanah Papua 6 Jenis jenis burung Cendrawasih yang mendiami “Surga” hutan dataran rendah di Kabupaten Raja Ampat antara lain :
- Burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica),
- Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius),
- Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra),
- Cendrawasih Kuning-kecil (Paradisaea minor pulchra),
- Cendrawasih Belah-rotan (Cicinnurus magnificus)
- Cendrawasih 12 Antena (Seleucidis melanolevca).
Sebut saja salah satunya dari beberapa jenis Burung Cenderawasih di antaranya adalah, Cendrawasih Botak atau dalam nama ilmiahnya Cicinnurus respublica adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang sekitar 21cm long, dari marga Cicinnurus.
Burung jantan cukup umur mempunyai bulu berwarna merah dan hitam dengan tengkuk berwarna kuning, lisan hijau terang, kaki berwarna biru dan dua bulu ekor ungu melingkar. Kulit kepalanya berwarna biru muda terperinci dengan contoh salib ganda hitam. Burung betina berwarna coklat dengan kulit kepala biru muda.
Endemik Indonesia, Cendrawasih botak hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Papua Barat. Pakan burung Cendrawasih Botak terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga kecil.
Penamaan ilmiah spesies ini diberikan oleh keponakan Kaisar Napoleon Bonaparte yang berjulukan Charles Lucien Bonaparte dan sempat menimbulkan kontroversi.
Bonaparte, seorang pengikut pemikiran republik, mendeskripsikan burung Cendrawasih Botak dari spesimen yang di beli oleh spesialis biologi Inggris berjulukan Edward Wilson beberapa bulan sebelum John Cassin, yang akan menamakan burung ini untuk menghormati Edward Wilson.
Tigabelas tahun kemudian, andal binatang Jerman yang berjulukan Heinrich Agathon Bernstein menemukan habitat Cendrawasih Botak di pulau Waigeo.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan tempat dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Botak dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan tempat dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Botak dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.
Ancaman terhadap kepunahan populasi ini merupakan hal yang serius dan harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah terutama terhadap tindakan pemanfaatan untuk kesenangan maupun tujuan secara ilegal, tetapi hal terpenting yaitu duduk kasus kerusakan habitatnya, sehingga proses penangkapannya telah di larang sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 perihal Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Eksosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 perihal Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Dampak kekuatiran atas acara insan yang tidak ramah lingkungan terhadap pemanfaatan dan kerusakan habitatnya akan mengakibatkan kemunduran populasi yang berakibat kepunahan spesies yang panjang.
Sumber :buletin konservasi
Sumber :buletin konservasi


EmoticonEmoticon