Monday, 16 April 2018

Perjalanan Luar Kota Ketika Hamil

Kehamilan Baby Al, si bungsu yang terpaut jauh jarak lima orang kakaknya, menciptakan kebiasaan yang berbeda dari kehamilan sebelumnya. Jika pada kehamilan sebelumnya saya bisa lebih banyak membisu di rumah, maka pada kehamilan Baby Al ini, saya harus bisa mengikuti irama perkembangan kakak-kakaknya. Bagaimana tidak, selulusnya dari Sekolah Dasar, si nomor tiga eksklusif masuk pondok pesantren di luar kota, sehingga kami harus 'sambang' ke pondok hampir setiap seminggu sekali. So, hampir sepanjang kehamilan Baby Al, saya dan suami harus wira-wiri ke luar kota. Alhamdulillah, menurut pantauan dokter, selama kehamilan ini saya sehat dan Baby Al juga sehat. 

Tinggal di pondok pesantren dan harus jauh dari keluarga merupakan pengalaman pertama bagi putri ketiga kami. Sehingga hampir sekali dalam seminggu kami harus 'sambang'. Awalnya, kami mengambil hari Minggu untuk 'sambang' ke pesantren, agar semua bisa ikut 'sambang'. Tetapi, ternyata sekolah si abang ketiga ini liburnya pada hari Jumat, sehingga kami harus rela mengubah jadwal 'sambang'. Dan, kami pun melintasi rute Surabaya-Paciran di hari Jumat. 

Dari rutinitas perjalanan ini, kami jadi tahu ternyata perjalanan di hari Minggu berbeda dengan perjalanan di hari Jumat. Pada hari Minggu, jalan tol yang kami lalui cenderung lengang, sebab tidak ada kendaraan besar yang kemudian lalang. Kebanyakan kendaraan yang lewat yaitu kendaraan pribadi. Sementara itu, pada hari Jumat, kendaraan besar yang lewat lebih banyak, sehingga walaupun lewat jalan tol. Sampai-sampai kami seolah liliput yang berada di antara raksasa yang bergerak dengan gagah. Tidak jarang kami terjebak macet dikala menjelang mendekati pintu gerbang tol dan terselip di antara kendaraan yang tinggi besar. Atau kalau ada kendaraan besar yang terguling, maka kami pun harus rela bermacet ria di jalan tol.

Seperti Liliput di Samping Truk Raksasa (Foto diambil di Jalan Tol, dok, pribadi)
Karena berlalu lalang bersama dengan kendaraan besar, polusi di jalan pun sangat terasa. Asap bus, kontainer, tangki, truk, kendaraan beroda empat box besar, sangat terasa hingga ke ruang kendaraan yang kami tumpangi. Apalagi pada dikala itu kami memang sering membawa si Merah. Saya sendiri mencicipi bahwa ada perbedaan dalam kemampuan filter udara si Merah dengan si Hitam. Karena dikala berkendara dengan si Hitam, saya tidak pernah mencicipi tajamnya wangi asap kendaraan lain yang kemudian lalang bersama kami di jalan raya. Sedangkan dikala berkendara dengan si Merah, saya bisa mencicipi wangi asap kendaraan lain. Dan, tidak hanya wangi asap kendaraan, wangi asap pabrik, wangi bubuk jalan juga bisa saya rasakan. 

Yapps, ternyata beda produsen beda kemampuan kendaraan beroda empat untuk menfilter udara. Polusi udara selama berkendara ini tentunya sangat kuat pada kenyamanan saya yang sedang hamil. Saya harus kerap menutup hidung dengan kerudung saya, agar tidak membau asap kendaraan dan bubuk yang masuk ke ruang kendaraan beroda empat dan agar tidak pusing dan mual. Saya pun mengalihkan bau-bauan tersebut ke arah wangi minyak kayu putih yang saya torehkan eksklusif di kerudung saya. Pastinya hal ini tidak hanya saya rasakan, tetapi juga bawah umur saya yang duduk di jok belakang. 

Hmmm, kadang saya hingga merasa enggan untuk ikut 'sambang', tetapi saya juga ingin bertemu sama si kakak. Nah, agar tetap bisa 'sambang' dan melalui perjalanan luar kota yang sehat dan nyaman selama hamil ini, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya adalah: 
  • Memastikan telah berkonsultasi dengan dokter bahwa kehamilan dalam kondisi sehat, baik ibu maupun baby nya.
  • Memperbanyak persediaan air putih dan mengurangi minuman berasa. Seperti yang kita tahu, air putih merupakan penetralisir zat beracun dalam tubuh. Makanya, kalau sedang dalam perjalanan, saya tidak mau ada minuman berasa di samping saya dan meletakkannya di jok belakang.
  • Nyemil buah-buahan yang sengaja saya bawa dari rumah. Nyemil buah-buahan sepanjang perjalanan akan menciptakan verbal terasa segar dan terhindar dari mual. 
  • Tidak ikut-ikut nyemil masakan gorengan, minuman berperisa dan yang mengandung zat pemanis, serta permen. Makanan-makanan tersebut awalnya memang lezat di mulut, tetapi lama-lama bisa menciptakan pusing. Itulah mengapa, saya menghindarinya dan beralih ke buah-buahan. 
  • Istirahat. Sebenarnya jarak tempuh kami tidak panjang. kalau perjalanan lancar, perjalanan bisa kami tempuh hanya dua setengah jam saja. Tetapi, demi kenyamanan, kalau hari sudah siang, biasanya kami istirahat dulu di rest area yang tersedia di jalan tol. Selain untuk istirahat dan sholat, di sini kami juga bisa menikmati makan siang. Tetapi kalau hari masih pagi, biasanya kami hanya berhenti ketika saya ingin buang air kecil saja. 
  • Pakai air filter atau filter udara untuk mobil. Filter udara ini bergotong-royong sudah ada di mobil. Hanya saja, ibarat yang sudah saya tulis di muka, beda produsen mobil, beda juga kemampuan filter udaranya. Si Merah yang meskipun keluaran lebih gres dibandingkan si Hitam, ternyata mempunyai kemampuan yang berbeda. Si Merah kurang bisa menfilter udara dari luar, sehingga memerlukan tambahan air filter. Setahu saya, penggerak produk air filter yang cukup handal saai ini sih Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter yang merupakan satu dari produk Sakura Filter. 
Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter (Diambil dari Sini)
Dibandingkan dengan produk air filter yang lain, Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter mempunyai kelebihan dalam menyaring partikel bubuk hingga kurang dari 2,5 mikron, sebab mempunyai tiga lapis penyaring. Bio-guardnya juga bisa melindungi pengendara dari virus, dan juga bisa mencegah alergi, sebab bisa mencegah alergen (pencetus alergi) hingga lebih dari 99%.

Dari hasil search di mbah Google, saya juga menemukan gosip mengenai Filter Sakura, bahwa produk air Filter yang disediakan banyak ragamnya lo. Masing-masing tipe dipakai untuk merek kendaraan beroda empat dari produsen yang berbeda. So, si Merah dan si Hitam yang mempunyai kemampuan berbeda dalam menyaring udara, harus memakai tipe yang berbeda pula. Lebih jelasnya, gosip mengenai Filter Sakura dan tipe-tipe berdasar jenis mobilnya bisa dilihat di SINI yaaa..... 

Nah, itu tadi pengalaman perjalanan luar kota dikala saya hamil Baby Al. Alhamdulillah, meskipun diajak melalui perjalanan luar kota sepanjang masa kehamilan, si baby Al terlahir dalam kondisi sehat ddengan berat tubuh sangat normal (3750 gr).


Yupps... Semoga goresan pena ini bisa menambah khasanah dan wawasan bagi ibu hamil lainnya yang ingin berkendara luar kota dengan sehat dan nyaman. Jadi, goresan pena ini bisa menjadi alternatif gosip di antara goresan pena terkait perjalanan luar kota dikala hamil yang banyak dishare melalui blog dan bisa dicari melalui si mbah google.




EmoticonEmoticon