Satu lagi kekayaan jenis burung di Indonesia yang mengagumkan, sekilas memang tampak menyerupai ayam, tetapi memang benar binatang ini ialah sejenis unggas.dan unggas ini ialah spesies satu-satunya didunia dari Genus Macrocephalon, dan hanya sanggup ditemui di negara Indonesia, yaitu di pulau Sulawesi.
Namanya Macrocephalon maleo, biasanya dikenal dengan nama Burung Maleo atau Maleo Senkawor. Burung Maleo ialah endemik pulau Sulawesi.
Burung Maleo termasuk unggas dengan ukuran badan sedang, sekitar 55 cm panjangnya, besar di potongan tubuhnya dan mengecil di potongan kepala, dengan warna secara umum dikuasai hitam, dan putih di potongan dadanya.
Tubuh yang besar dan kepala yang kecil berfungsi dikala Maleo beristirahat, juga dikala bersembunyi ditanah dari bahaya predator.
Kakinya berkuku dan berselaput, namun bukan untuk berenang melainkan untuk menggaruk tanah. Tetapi ciri yang paling cepat dan gampang untuk mengenalinya ialah batok kepalanya yang hitam mengkilat.
Maleo banyak menghabiskan hidupnya di darat, karena makanannya menyerupai serangga, semut, dan biji-bijian. Namun juga berpindah dari pohon ke pohon, untuk menghindari predator. Maleo tidak hidup secara berkelompok, tetapi sepanjang hidupnya dilewatkan dengan satu-satunya pasangannya.
Burung Maleo ialah penghuni hutan tropis di sekitar pantai yang berpasir hangat, atau juga di hutan pegunungan yang bersahabat dengan sumber mata air panas.
Tanah hangat dengan suhu antara 32-35 oC ialah syarat utama habitat mereka, dan untuk menemukan daerah yang cocok, Maleo mengandalkan sensor panas yang terdapat pada tonjolan kepalanya.
Pemilihan habitat yang unik ini bersama-sama ada hubungannya dengan sikap reproduksi Maleo. Meskipun tergolong hewan monogami yang setia dengan pasangannya hingga mati, namun Maleo justru tidak setia pada telurnya sendiri.
Maleo tidak mengerami telurnya sendiri melainkan dikubur dalam tanah atau pasir yang cukup hangat, biasanya, di titik yang mempunyai suhu cukup hangat Maleo menggali lubang sedalam 30-50 cm, kemudian meletakkan telurnya dan menutupnya kembali dengan tanah sekitar 10-15 cm diatas telur.
Memang tidak ditutup sepenuhnya supaya ketika telur menetas si Maleo ingusan sanggup keluar dari tanah. Nah, anak Maleo ini berusaha sendiri untuk sanggup keluar dari timbunan tanah, dan eksklusif sanggup terbang dan mencari makanannya tanpa derma sang induk.
Hal mengagumkan lainnya ialah telurnya yang cukup besar, kurang lebih sekitar 240-270 gram beratnya dan 11 cm panjangnya, sekitar 4 atau 5 kali besar telur ayam.
Akan tetapi, lantaran perubahan bumi cukup umur ini, Maleo sudah tergolong sebagai binatang langka dan terancam punah. Hal ini juga disebabkan lantaran perburuan oleh manusia, untuk dikonsumsi daging dan telurnya, juga permbukaan lahan.
Akan tetapi, lantaran perubahan bumi cukup umur ini, Maleo sudah tergolong sebagai binatang langka dan terancam punah. Hal ini juga disebabkan lantaran perburuan oleh manusia, untuk dikonsumsi daging dan telurnya, juga permbukaan lahan.
Ada sebuah iktikad dari budaya setempat, yaitu ketika seseorang telah mendirikan rumah, maka dibawah rumah yang gres saja dibangun tersebut wajib dikubur satu telur Maleo. Dengan impian rumah tersebut sanggup berumur panjang dan berdiri dengan kokoh.
Maka dikala ini sangat sedikit Maleo yang sanggup ditemui di habitat asli. Menurut penelitian, Maleo berasal dari benua Australia, tapi kenyataannya kini Maleo hanya ada di pulau Sulawesi.
Oleh lantaran itu bagi anda yang berwisata ke Sulawesi, dan ingin menjenguk unggas langka ini, anda hanya sanggup menemuinya di Sulawesi Tengah, di penangkaran yang dibangun dengan tujuan mejaga kelestarian burung unik ini. Misalnya di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala, yaitu di Cagar Alam Saluki, atau di Taman Nasional Lore Lindu dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Untuk tujuan yang sama, disarankan jangan membawa pulang telur Burung Maleo ya
gocelebesMaka dikala ini sangat sedikit Maleo yang sanggup ditemui di habitat asli. Menurut penelitian, Maleo berasal dari benua Australia, tapi kenyataannya kini Maleo hanya ada di pulau Sulawesi.
Oleh lantaran itu bagi anda yang berwisata ke Sulawesi, dan ingin menjenguk unggas langka ini, anda hanya sanggup menemuinya di Sulawesi Tengah, di penangkaran yang dibangun dengan tujuan mejaga kelestarian burung unik ini. Misalnya di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala, yaitu di Cagar Alam Saluki, atau di Taman Nasional Lore Lindu dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Untuk tujuan yang sama, disarankan jangan membawa pulang telur Burung Maleo ya
ingin tau baca laptop si unyil


EmoticonEmoticon